Rindu Camping Setelah Dua Tahun
Cerita tentang tenda, langit malam, dan niat untuk mulai lagi pelan-pelan.
Saya harus ngaku: sudah dua tahun lebih saya nggak camping. Bukan karena nggak mau, tapi karena waktu, tenaga, dan kesempatan belum ketemu. Eh, makin lama malah makin kangen. Ada yang sama? ⛺
Belakangan, saya melihat lagi foto-foto perjalanan. Ada beberapa potret persinggahan sebentar di tepi sungai dan telaga. Bukan camping, hanya jeda singkat di tengah perjalanan — tapi suasana alam seperti itu tetap menyegarkan dan mengingatkan saya pada waktu-waktu yang lebih lama di luar.
Terakhir camping kapan, ya?
Kalau dihitung-hitung, terakhir pasang tenda itu sudah lewat dua tahun lalu. Waktu itu masih semangat bawa keril gede, masak seadanya, tidur beralaskan matras tipis yang paginya bikin pinggang protes. 😄
Sekarang? Jangankan pasang tenda, gelar matras di ruang tamu aja kadang ketiduran duluan. Umur boleh nambah, tapi jiwa pengin nginep di alam ternyata nggak ikut tua.
Yang lucu, dulu tiap habis camping selalu bilang: "Aduh, capek. Rehat dulu deh." Sekarang tiap lihat foto alam malah bilang: "Kapan lagi ya bisa kayak gitu?" Dasar manusia, kalau jauh kangen, kalau sudah di sana pengin pulang. 🙈
Yang paling dikangenin itu bukan gunungnya
Anehnya, yang saya kangenin bukan puncak atau pemandangannya. Yang nempel di ingatan justru hal-hal kecil:
- Minuman hangat sederhana yang terasa istimewa setelah seharian di luar
- Mie instan yang matang setengah, dimakan bareng-bareng sambil jongkok
- Suara jangkrik dan air yang nggak bisa dibeli di kota
- Langit malam yang bintangnya seperti tumpah
- Tenda sempit yang kalau satu orang balik badan, semuanya ikut goyang
Di rumah semua serba gampang: air panas tinggal putar, kasur empuk, sinyal kencang. Tapi justru di tenda yang serba kurang itu, hati rasanya penuh. Mungkin karena di sana kita belajar cukup dengan yang ada.
Alam itu guru yang sabar. Dia tidak menghakimi, dia hanya menunjukkan betapa kecilnya kita — dan betapa besarnya rasa syukur yang seharusnya kita bawa pulang. 🌿
Menepi di Telaga Sarangan
Dalam perjalanan pulang setelah dari Lombok, saya sempat menepi di Telaga Sarangan, yang juga dikenal sebagai Telaga Pasir. Telaga alami ini berada di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut, dikelilingi pemandangan khas pegunungan. Di foto, kaki bersandal saya ikut mejeng di depan—gayanya seperti sudah santai lama-lama, padahal cuma singgah sebentar. 😄
Telaganya cantik, hawanya sejuk dan segar. Sayangnya, suasana cukup ramai sehingga tidak mudah mencari tempat kosong untuk sekadar duduk menikmati pemandangan. Beberapa tempat yang tampak kosong sudah digelari tikar oleh penjual; kalau ingin duduk di situ, kami diminta membeli lebih dulu. Saya paham itu bagian dari usaha mereka, tetapi sebagai pengunjung yang hanya ingin beristirahat sebentar, rasanya kurang nyaman.
Dari situ saya belajar, indahnya pemandangan akan terasa lebih lengkap kalau semua orang punya ruang untuk menikmati tempat itu dengan nyaman. Semoga kita bisa saling berbagi ruang: pedagang tetap punya tempat untuk berusaha, sementara pengunjung juga punya pilihan yang jelas untuk duduk dan beristirahat.
Pengalaman ini tetap berbeda dengan camping: tidak mendirikan tenda, memasak, atau bermalam di alam. Hanya jeda singkat yang membuat saya makin ingat betapa rindunya punya waktu lebih lama untuk menikmati suasana seperti ini.

Singgah sebentar di Kuningan
Perjalanan pulang ternyata belum bisa langsung tuntas. Saat itu rumah sedang kebanjiran, jadi saya belum bisa pulang dan sempat singgah di Kuningan, Jawa Barat. Foto ini diambil di tepi sungai yang airnya jernih, dengan air terjun kecil di kejauhan dan cahaya matahari menyelinap di antara rimbun pepohonan. Rasanya adem sekali.
Ini juga hanya persinggahan sebentar, tentu berbeda dengan camping: tidak mendirikan tenda, bermalam, atau memasak di alam. Tapi jeda singkat itu tetap menyenangkan — semacam pengingat kecil tentang suasana alam yang belakangan saya rindukan.

Jujur, outfit saya di foto itu sangat "bapak-bapak siap piknik": kaos biru, celana cargo, dan sandal gunung andalan. Ditambah tongsis di tangan kanan biar bisa foto sendiri tanpa merepotkan orang. Praktis itu penting, gaya itu belakangan. 😎
Tapi justru di situ letak rindunya. Berdiri di tempat seperti itu mengingatkan saya: betapa tenangnya hidup kalau sejenak berhenti mengejar ini-itu, lalu sekadar mendengar suara air.
Hikmah dari rasa kangen
Makin ke sini saya sadar, kangen camping itu bukan sekadar kangen jalan-jalan. Ada hikmah yang ikut kebawa:
- Rindu itu tanda hati masih hidup. Kalau masih bisa kangen pada hal baik, berarti fitrah kita masih peka pada ketenangan.
- Rumah bukan cuma tembok. Kadang rumah yang paling menenangkan justru selembar tenda di bawah langit yang luas.
- Bahagia itu sering sederhana. Minuman hangat, teman ngobrol, dan tempat kering buat tidur — sudah cukup untuk merasa kaya.
- Jeda itu ibadah juga. Berhenti sejenak dari rutinitas bukan malas, tapi cara merawat akal dan hati biar nggak aus.
Mungkin dua tahun ini saya terlalu sibuk menata yang di depan mata, sampai lupa menata yang di dalam dada.
Oke, terus kapan berangkat lagi?
Nah ini pertanyaan yang paling susah dijawab. 😄
Saya nggak mau janji muluk-muluk. Tapi niatnya ada: mulai lagi pelan-pelan. Nggak harus langsung gunung tinggi atau jalan jauh. Camping santai di tempat yang aman dan dekat pun jadi — yang penting kena dinginnya malam dan dengar suara alam lagi.
Kalau ada teman-teman yang mau ngajak camping santai, kabari saya ya. Saya bagian bawa bekal dan cerita, bagian pasang tenda yang rapi biar yang muda-muda saja. 🤝
Pelan bukan berarti berhenti. Selama masih rindu pada hal baik, selalu ada jalan untuk kembali. 🌱
Sampai jumpa di tenda berikutnya. Semoga rindu ini segera terbayar — dengan langit malam, minuman hangat, dan tawa yang lepas. 🤲✨
- Terakhir camping kapan, ya?
- Yang paling dikangenin itu bukan gunungnya
- Menepi di Telaga Sarangan
- Singgah sebentar di Kuningan
- Hikmah dari rasa kangen
- Oke, terus kapan berangkat lagi?